Khamis, 24 Mac 2011

7 Golongan yang Berada di Bawah Naungan Allah |
سبعة يظلهم الله في ظلّه يوم لا ظل إلا ظله |
The Seven Under the Shade of Allah


Daripada Abu Hurairah r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda :
Tujuh golongan, Allah akan menaungi mereka pada hari yang tiada naungan melainkan naunganNya :
|1| Imam yang adil
|2| Pemuda yang membesar dengan beribadat kepada Allah
|3| Insan yang hatinya terpaut dengan masjid
|4| Dua insan yang berkasih sayang kerana Allah, mereka bertemu dan berpisah kerana Allah
|5| Insan yang digoda wanita yang cantik dan berpangkat, lalu ia berkata, "Sesungguhnya aku takutkan Allah",
|6| Insan yang bersedekah dengan cara tersembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dibelanjakan oleh tangan kanannya,
|7| Insan mengingati Allah secara bersunyian lalu berlinangan air matanya.

:: Hadis Riwayat Bukhari & Muslim ::


عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول :
سبعة يظلهم الله في ظله يوم ظل إلا ظله :
- إمام عادل
- و شاب نشأ في عبادة الله
- و رجلان تحابا في الله, اختماعاً عليه و تفرقاً عليه
- و رجل ذكر الله خاليا ففاضت عيناه
- و رجل قلبه معلق بالمساجد
- و رجل تصدق بصدقة فأخفاها حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه
- و رجل دعته امرأة ذات منصب و جمال فقال : إني أخاف الله رب العالمين

:: أخرجه البخاري و مسلم ::



Narrated Abu Huraira r.a., the Prophet s.a.w. said :
“There are seven whom Allah will shade in His Shade on the Day when there is no shade except His Shade:
|1| a just ruler;
|2| a youth who grew up in the worship of Allah, the Mighty and Majestic;
|3| a man whose heart is attached to the mosques;
|4| two men who love each other for Allah’s sake, meeting for that and parting upon that;
|5| a man who is called by a woman of beauty and position [for illegal intercourse], but be says: ‘I fear Allah’,
|6| a man who gives in charity and hides it, such that his left hand does not know what his right hand gives in charity; and
|7| a man who remembered Allah in private and so his eyes shed tears.”
(Bukhari & Muslim)

Rabu, 23 Mac 2011

Kasih Sayang dalam Islam

“ Sesungguhnya kasih sayang itu cabang (penghubung) kepada Allah SWT. Barang siapa yang menyambungnya,maka Allah akan menyambung (kasih sayang-Nya) dengannya. Dan barang siapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutus (kasih sayang-Nya) dengannya.” (HR. Bukhori)

Islam agama penuh dengan kasih sayang. Mewujudkan kasih sayang pada diri sendiri, serta memberikan kasih sayang kepada siapa dan apa yang ada disekeliling kita adalah ibadah. Dan itulah bagian dari sifat dan jati diri orang muslim.

Hanya saja, ada tingkatan sayang dalam Islam. Tingkatan tertinggi adalah sayang / cinta pada Allah SWT lalu Rosulullah SAW.
”Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah yang kamu sukai, adalah lebih utama daripada Allah dan Rosul-Nya dan berjihad di jalan Allah, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah:24)

Secara garis besar, objek kasih sayang dalam Islam adalah:

1. Sayang kepada Allah SWT
Mewujudkan rasa sayang atau cinta kepada Allah SWT dalam diri seorang muslim adalah suatu keniscayaan. Karena tidak akan sempurna ibadah seseorang kepada Allah SWT bila tidak ada rasa cinta di dalamnya.
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah …” (QS.Al-Baqoroh: 165)

2. Sayang kepada Rasulullah SAW
Mencitai Rosulullah merupakan bagian dari keimanan.
Anas berkata, Rosulullah bersabda, “Tidak sempurna iman kalian sampai aku lebih dia cintai daripada dirinya, orang tuanya, anaknya dan manusia lain keseluruhan”. (HR. Bukhori dan Muslim)

3. Sayang kepada sesama manusia
Jarir bin Abdullah berkata, Rosulullah bersabda, “Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak menyayangi manusia lainnya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Yang termasuk sayang kepada sesama manusia adalah:
Sayang kepada orang tua
Abu Hurairoh berkata: “Ada seorang laki-laki datang ke Rosulullah, lalu bertanya, Wahai Rosulullah, siapakah manusia yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan sebaik mungkin? Rosulullah bersabda, Ibumu. Lalu ia bertanya, lalu siapa? Beliau menjawab, ibumu. Ia betanya, lalu siapa lagi? Ibumu, jawab Rosulullah. Ia bertanya lagi, lalu siapa? Bapakmu, jawab beliau. (HR. Bukhori)

Sayang kepada suami atau istri
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah, Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS.Ar-Rum:21)

Sayang kepada saudara
Anas berkata: Rosulullah bersabda,” Tidak sempurna iman kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagai mana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhori)

Sayang kepada anak
Abu Hurairoh berkata: “sewaktu Rosulullah mencium Husain bin Ali, di dekatnya ada sahabat yang sedang duduk, bernama al-Aqro bin Habis at-Tamimi. Al-Aqro berkata, saya telah mempunyai 10 anak, tapi saya tidak pernah mencium satupun dari mereka. Rosulullah memandanginya, lalu bersabda,” Barang siapa yang tidak punya rasa kasih sayang, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhori)

Sayang kepada tetangga
Said bin Abi Syuraikh berkata: Rosulullah bersabda, “Demi Allah, ia tidak beriman. Allah, ia tidak beriman. Allah, ia tidak beriman. Ada yang bertanya, siapakah yang Anda maksud wahai Rosulullah? Rosulullah menjawab, Orang yang tetangganya merasa tidak nyaman dari kejahatan dan keburukannya.” (HR. Bukhori)

Sayang kepada teman
Anas bin Malik berkata: “ Aku pernah duduk di sisi Rosulullah, lalu lewatlah seorang laki-laki. Ada laki-laki lain dari suatu kaum yang berkata, Wahai Rosulullah, sungguh aku sangat mencintai (menyayangi) laki-laki itu. Rosulullah bertanya, Apakah kamu telah memberitahukan hal itu kepadanya? Laki-laki itu menjawab, Belum. Rosulullah bersabda, Berdirilah, dan beritahukanlah kepadanya. Maka laki-laki itupun berdiri menghampirinya, ia berkata, Wahai saudaraku, demi Allah, aku mencintaimu karena Allah. Lalu orang tersebut menjawab, Semoga Allah juga mencintaimu karena kamu mencintai karena-Nya.” (HR. Ahmad, no.1198)

4. Sayang kepada haiwan
Abu Hurairoh berkata: Rosulullah bersabda,”pernah ada sorang laki-laki dalam perjalanan, ia merasa sangat haus. Kemudian ia bertemu sumur dan turun ke dalamnya, ia minum air sumur lalu keluar. Tiba-tiba ada anjing yang menjulurkan lidahnya, mengendus  tanah karena kehausan. Ia berkata dalam hatinya, anjing ini mengalami apa yang tadi aku alami. Lalu ia (turun ke sumur lagi) memenuhi sepatu kulitnya (dengan  air), lalu ia gigit dengan mulutnya lalu keluar, selanjutnya ia memberi minum anjing tersebut. atas perbuatannya itu, Allah bersyukur padanya dan mengampuni dosanya. Para sahabat bertanya, wahai Rosulullah, apakah kita akan mendapat pahala jika menolong haiwan? Beliau bersabda, “Kebaikkan kepada setiap yang punya hati (makhluk hidup) ada pahalanya” (HR. Bukhori dan Muslim)

5. Sayang kepada tumbuhan
Pesan Abu Bakar ra. Kepada pemimpin pasukannya, Yazid bin Abu Sufyan:
Dan aku berwasiat kepadamua 10 hal. ” janganlah kalian membunuh wanita, bayi atau orang tua lanjut usia. Dan janganlah kamu memotong pon yang sedang berbuah. Dan janganlah kamu merusak gedung atau bangunan. Dan janganlah kamu membunuh camping atau onta kecuali untuk di makan. Dan janganlah kamu membakar lebah atau menenggelamkannya. Dan janganlah kamu korupsi, Dan janganlah kamu berkhianat.” (HR. Malik)

6. Sayang kepada sekeliling
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-A’raf: 56)

Jika diperhatikan, konsep kasih sayang dalam Islam lebih lengkap dan komplit. Sehingga kita tidak perlu lagi konsep kasih sayang dari agam atau ajaran filsafat kepecayaan lain.

Jika kita benar-benar memperaktikkan ajaran Islam secara kaffah (integral), maka kita akan merasakan besarnya kasih sayang dalam diri kita, dan orang lainpun merasakannya kenikmatan kasih sayang yang menjadi bagian dari ajaran Islam.

10 Amalan untuk Mengubah Watak Diri Menjadi Baik

Pertama:
Tahajjud, kerana kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya.

Kedua:
Melazimi membaca Al-Qur'an dan zikir al-mathurat sebelum terbit matahari.

Ketiga:
Memelihara kesempurnaan solat kerana inilah kekuatan mukmin muslim yang utuh

  
Keempat:
Jaga solat dhuha, kerana kunci rezeki terletak pada solat dhuha.

  
Kelima:
Jaga sedekah setiap hari. Walaupun hanya dengan sekuntum senyuman

Keenam:
Jaga wudhuk terus menerus kerana Allah menyayangi hamba yang berwudhu'. 

Ketujuh:
Amalkan istighfar setiap masa agar terhapus segala dosa dan noda.

Kelapan :
Perbaharui Azam dan Tekad untuk terus berkhidmat kerana Allah SWT

Kesembilan :
Sentiasa ceria dan berfikiran positif kerana itulah watak seorang mukmin sejati

Kesepuluh :
Memelihara Diri dengan keikhlasan yang tulus kerana Allah SWT kerana disitulah terletaknya nilai amalan di sisi Allah SWT.

Isnin, 14 Mac 2011

Adakah Taubatku Diterima oleh Allah?


Antara tanda orang yang taubatnya diterima:
  1. Selepas bertaubat keadaannya lebih baik daripada sebelumnya. Seorang hamba hendaklah melihat dirinya setelah bertaubat. Apakah bertambah baiknya atau masih dalam kejahatan. Kalau menjadi baik, Alhamdulillah. Kalau sebaliknya, hendaklah dikesali. 
  2. Hendaklah berasa takut, yang dia tidak aman daripada azab Allah.
  3. Hendaklah menambat keinginan hatinya daripada berbuat maksiat.
  4. Hendaklah menyesal dan takut untuk melakukan sama ada dosa kecil atau jenayah yang besar.
  5. Berasa hina diri dan tawaduk.
Tanda taubat ditolak termasuk:
  1. Lemah keazamannya dan hatinya membayangkan keseronokan melakukan dosa semula. Itu adalah taubat orang yang dusta. Malunya kepada manusia, tidak kepada Tuhan, takutnya kepada manusia tidak takut kepada Allah.
  2. Tenang dan yakin dirinya telah bertaubat dan berasa aman daripada murka Allah.
  3. Beku air matanya daripada menangis dan keras hatinya.
  4. Tidak takut terhadap kematian dan peristiwanya.
  5. Tidak takut neraka dan peristiwanya.
  6. Tidak melakukan amal soleh selepas bertaubat.
Marilah kita bertaubat bersungguh-sungguh kepada Allah sebelum terlambat.

Firman-Nya bermaksud :“Wahai orang yang beriman, bertaubatlah kamu kepada Allah (mintalah dihapuskannya dosa kamu), dengan taubat nasuha, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapuskan kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, pada hari Allah tidak akan menghinakan Nabi dan orang yang beriman bersama-sama dengannya, cahaya (iman dan amal soleh) mereka, bergerak cepat di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka (ketika mereka berjalan), mereka berkata (ketika orang munafik meraba-raba dalam gelap gelita): “Wahai Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan limpahkanlah keampunan kepada kami, sesungguhnya engkau amat berkuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (Surah at-Tahrim, ayat 8)

Ahad, 13 Mac 2011

Istimewanya Memeluk Islam

Diriwayatkan daripada Abu Said al-Khudri r.a : “Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya: “Apabila seseorang memeluk agama Islam dengan ikhlas, Allah akan mengampunkan semua dosa-dosanya di masa lalu. Kemudian setelah itu mulai diadakan perhitungan, pahala untuk setiap perbuatan baik yang dilakukannya dilipat gandakan sepuluh sampai tujuh ratus kali ganda sedangkan setiap dosa yang dilakukannya akan dicatat sebanyak dosa yang dilakukannya kecuali apabila Allah mengampunkannya.”
(al-Bukahri)

Huraian:
Mualaf ialah orang yang baru berjinak-jinak Islam. Dari segi bahasa mualaf bererti lemah. Istilah ini lalu disandarkan kepada mereka yang baru saja memeluk Islam dan masih lemah pemahamannya tentang Islam. Kebanyakan daripada kita tidak memahami keperluan mualaf.

Mualaf sebenarnya mengharapkan teman dan sahabat yang dapat memberi sokongan moral dan perlindungan dari kecaman keluarga mahupun saudara, kerana perpindahan agama bukanlah perkara yang mudah sebaliknya memerlukan banyak pengorbanan. Justeru perlu ada pihak yang menyelia dan membimbing golongan yang baru memeluk Islam ini agar mereka tidak kembali murtad. Contohnya menziarahi mereka supaya tidak terabai dan memantau perkembangan mereka.
Kebanyakan kes yang berlaku hari ini, orang memeluk Islam sekadar untuk mencukupkan syarat membolehkannya berkahwin dengan pasangan yang beragama Islam. Bukan dengan niat yang benar-benar ikhlas mahu mentauhidkan Allah SWT. Bagi mualaf yang ikhlas ingin memeluk Islam pula, mereka akan melaksanakan ajaran Islam secara bertahap. Bahkan tidak keterlaluan jika dikatakan bahawa ada antara golongan mualaf ini yang jauh lebih taat daripada mereka yang sejak lahir memeluk Islam. Golongan inilah yang disebutkan di dalam hadis di atas.